Tekanan perburuan gelar Liga Inggris mulai terasa di tubuh Manchester City. Di tengah jadwal padat dan persaingan ketat dengan Arsenal, pelatih Pep Guardiola mengakui skuadnya kini mulai dibayangi kelelahan fisik menjelang fase penentuan musim 2025/2026.
Guardiola Mulai Khawatir Kondisi Fisik Pemain
Kemenangan 3-0 atas Crystal Palace pada Kamis (14/5/2026) dini hari memang menjaga peluang City dalam perebutan gelar Premier League. Namun di balik hasil positif tersebut, Guardiola menilai tekanan jadwal mulai memberi dampak nyata terhadap kebugaran para pemainnya.
Pelatih asal Spanyol itu menegaskan bahwa nasib gelar kini tidak sepenuhnya berada di tangan City. Menurutnya, Arsenal masih memegang kendali penuh dalam persaingan menuju juara.
“Itu tergantung mereka. Jika mereka memenangkan dua pertandingan tersisa, maka tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” kata Guardiola.
Meski demikian, City tetap berusaha menjaga tekanan hingga akhir musim. Guardiola memastikan timnya akan terus berjuang sambil berharap Arsenal kehilangan poin pada laga tersisa.
“Yang bisa kami lakukan hanyalah tetap berada di sana, berjaga-jaga jika mereka terpeleset,” lanjutnya.
Rotasi Pemain Jadi Solusi Darurat
Dalam laga melawan Crystal Palace, Guardiola sengaja melakukan rotasi untuk menjaga kondisi pemain inti. Sejumlah nama penting seperti Erling Haaland, Jérémy Doku, dan Rayan Cherki disimpan demi menjaga kebugaran menghadapi jadwal berikutnya.
Keputusan itu diambil karena City harus langsung menghadapi jadwal berat setelah laga kontra Palace. Mereka dijadwalkan tampil di final FA Cup melawan Chelsea di Wembley sebelum kembali menjalani laga penting Premier League menghadapi AFC Bournemouth dan Aston Villa.
“Sekarang kami harus tidur secepat mungkin dan mempersiapkan final FA Cup. Itulah yang harus kami lakukan,” ujar Guardiola.
Jadwal Padat Jadi Tantangan Terbesar
Guardiola secara khusus menyoroti minimnya waktu pemulihan sebagai faktor utama yang memicu fatigue di dalam skuad.
Menurutnya, perjalanan antarkota dan tuntutan pertandingan berintensitas tinggi membuat pemain kesulitan mendapatkan recovery ideal di penghujung musim.
“Bukan hanya final FA Cup. Tiga hari setelah itu kami harus menghadapi Bournemouth. Ada perjalanan ke London, lalu para pemain pulang bertemu istri dan anak-anak mereka. Jadi, kelelahan, kelelahan,” katanya.
Pelatih berusia 55 tahun itu juga mengingatkan bahwa dua laga terakhir Liga Inggris tidak akan mudah. Ia memuji performa Bournemouth musim ini dan menilai duel melawan tim asuhan Unai Emery akan menjadi ujian berat.
“Pertandingan terakhir sangat sulit. Bournemouth tampil luar biasa musim ini, lalu menghadapi Unai Emery juga tidak mudah,” ucap Guardiola.
City Tetap Berjuang Sampai Akhir
Meski kondisi fisik pemain mulai menurun, Guardiola tetap memberikan apresiasi penuh terhadap mentalitas dan perjuangan skuadnya sepanjang musim.
Menurutnya, para pemain sudah memberikan segalanya dengan tetap kompetitif di berbagai kompetisi hingga pekan-pekan terakhir musim berjalan.
“Saya tidak bisa meminta lebih dari para pemain. Kami akan pergi ke Wembley untuk menang dan kami harus siap secara fisik maupun mental,” tegas Guardiola.
Situasi ini kembali menunjukkan tantangan besar yang dihadapi klub elite Eropa modern, di mana persaingan di banyak kompetisi membuat faktor kebugaran menjadi penentu utama dalam perebutan trofi di akhir musim. (*)







